KANON ALKITAB
KANON ALKITAB 009
Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:14-17).
Alkitab dalam bentuknya yang sekarang, sebagai satu buku yang sangat tebal. Baik itu Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, tidak serta-merta menjadi satu buku yang kita sebut sebagai Alkitab. Melainkan memiliki sejarah yang panjang dengan penuh pergumulan, yaitu untuk memilih serta mengambil keputusan yang mana dari sekian banyak tulisan yang ada itu adalah Firman Allah.
Kini Alkitab yang terdiri dari 66 kitab ini, telah mengalami kanonisasi. Istilah Kanon berasal dari kata Yunani yang berarti "tongkat pengukur", "standar" atau "norma". Selajutnya kata itu dipakai juga untuk daftar Kitab-kitab yang bersama-sama merupakan Alkitab. Isi Kitab-kitab itulah yang diakui oleh gereja sebagai ukuran dan norma bagi iman serta kehidupan Kristen.
Dalam sejarah gereja bahwa sejak tahun 397 di kota Karthago pada Konsili tersebut, maka secara resmi telah menetapkan Kanon untuk seluruh isi Alkitab. Namun demikian pada akhirnya Protestan hanya mengakui 66 Kitab. Sedangkan Katolik mengakui 66 Kitab dan Kitab-kitab Apokrifa yang menurut mereka itu ditulis setelah Perjanjian Lama selesai semua dan sebelum Perjanjian Baru dimulai. Maka hingga kini, Katolik tetap mengakui Kitab-kitab Apokrifa sebagai Firman Tuhan yang berotoritas.
Kita tahu bahwa dalam tradisi Yahudi kitab Perjanjian Lama dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: Taurat, yang meliputi Kitab-kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan; Nabi-nabi yang meliputi Kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, 1 dan 2 Samuel, 1dan 2 Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan dua belas nabi kecil (Hosea sampai Maleakhi); Ketubim atau Surat-surat, yang meliputi Mazmur, Ayub, Amsal, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, 1dan 2 Tawarikh.
Sejak abad pertengahan Masehi, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah diakui sebagai pedoman bagi hidup dan kepercayaan Yahudi, namun itu tidak sekaligus melainkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab pengumpulan Kitab-kitab Perjanjian Lama tadi sebagai pedoman hidup dan kepercayaan, masih ada kumpulan Kitab-kitab yang disebut apokrip (samar).
Akan tetapi pada akhirnya Kitab-kitab Perjanjian Lama diakui dan dan ditetapkan sebagai Kitab Perjanjian Lama karena Tuhan Yesus dan Para rasul menerima Kitab-kitab itu sebagai Firman Allah.
Berikutnya gereja pada abad-abad pertama juga memilih banyak tulisan kesaksian tentang Tuhan Yesus yang diterimanya dari para rasul dan para murid rasul serta dari para bapa kerasulan. Maka demikian gereja harus melakukan penyelidikan, pertimbangan, pemilihan dari sekian banyak tulisan yang ada tadi.
Tulisan yang lebih diutamakan adalah tulisan-tulisan yang memuat cerita tentang Tuhan Yesus dan karya-karya-Nya yaitu yang kita kenal sebagai Kitab-kitab Injil. Meskipun dalam pengumpulan tulisan-tulisan Injil, ada yang meragukan Injil Yohanes dan ada yang belum mengenal Injil Lukas. Namun demikian keempat Injil ini diterima dan sebagai pengumpulan yang tetap.
Selanjutnya tentang surat-surat para rasul, karena adanya kanon Marcion pada pertengahan abad kedua, memaksa gereja untuk memasukkan surat-surat para rasul itu juga dalam daftar kitab-kitab yang telah dimilikinya, yaitu Injil. Meskipun demikian gereja terus menggumuli dan akhirnya penyusunan Kitab Perjanjian Baru seperti yang kita kenal sekarang ini. Hingga tahun 397 dalam Konsili di Karthago gereja memutuskan dalam Perjanjian Baru dengan 27 Kitab. Yang isinya sudah tentu mengenai Karya penyelamatan Kristus secara benar, sehingga itu menjadi pedoman bagi kehidupan gereja.
Dari uraian diatas dapat kita kemukakan bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru bukanlah Kitab-kitab yang telah diturunkan dari sorga, baik dalam bentuk lembaran maupun dalam bentuk Kitab, namun demikian Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah Kitab yang tumbuh di dalam sejarah, dilahirkan karena kebutuhan umat Allah akan suatu pedoman yang tetap bagi kehidupan keagamaannya.
Keseluruhan isi Alkitab itulah yang oleh umat Allah dipandang sebagai pengumpulan tulisan-tulisan yang secara tepat dan benar menyaksikan akan karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Sehingga Kitab-kitab inilah yang dipandang sebagai alat Roh Kudus untuk bersaksi tentang Kristus. Isi Alkitab inilah yang kita baca dengan penuh percaya serta pengharapan bahwa disini dan hanya di sini sajalah kita akan mendengar suara Tuhan yang berfirman. Dengan demikian Alkitab inilah yang merupakan kesaksian tentang Penyataan Allah. Disinilah sungguh terdapat kanon: batang pengukur kebenaran, satu-satunya kaidah dan norma bagi iman dan kehidupan gereja.
Komentar