Kemiskinan dan Kemakmuran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kemiskinan dan kemakmuran merupakan dua
Topik hangat yang terus di perbincangkan sepanjang masa. Sejak zaman purba
sampai era modern, kemiskinan dan kemakmuran selalu mewarnai dunia. Meski
demikian, Alkitab sangat menonjol membahas persoalan kemiskinan karena jumlah
orang miskin jauh lebih banyak dari pada jumlah orang kaya. Jadi pembahasan
tentang kemiskinan dan kemakmuran menjadi sangat penting karena memiliki
keterkaitan yang luas dalam kehidupn bangsa Israel, termasuk dalam hal etika.
Dalam Alkitab kita menjumpai
faktor-faktor baik yang menghasilkan kekayaan maupun yang kemiskinan sama
dengan hal-hal yang dilihat secara umum. Akan tetapi ada juga penyebab campur
tangan Allah yang ikut bekerja dalam proses tersebut. Alkitab menyebutkan bahwa
memang kemikinan dapat disebabkan karena kemasalan
( Ams 6:6-11) dan juga karena hidup
boros ( Luk 15:11-32) dan kemiskinan disalahkan oleh ( Mat 25:24-30).
Tetapi Alkitab juga menyebutkan bahwa kemiskinan juga bisa disebabkan karena bencana alam, seperti apa yang terjadi
karena penindasan ( Amsal 2:6-7).[1]
B. Pengertian
Kemiskinan menurut Perjanjian Lama ( PL)
Perjanjian
Lama menggunakan berbagai istilah kata tentang kemiskinan yaitu ani, evion, dal dan ras makhsor.
Kata-kata ini selalu menunjuk kepada tiga kelompok, yaitu para janda, anak-anak
yatim dan para pengembara ( Im 19:10;32:22; Ayub. 29:12-13; zak. 7:9-10 ). Meskipun mereka tidak selalu miskin,
ada kecenderungan bahwa mereka mudah menjadi miskin. Dalam suatu struktur masayarakat
yang didominasi oleh laki-laki, seorang janda akan tidak mampu bersaing.
Apalagi seorang yatim. Mereka adalah kaum lemah dan mudah mendapat penindasan
dari orang lain.
Kata
ani merupakan kata umum dalam bahasa ibrani yang di gunakan untuk menunjuk
kemiskinan. Meskipun penggunaanya sering disejajarkan dengan evyon, dal, tetapi artinya berbdeda dari keduanya kata ani lebih menunjuk kepada
ketidakberdayaan.
Dalam
torah kata ani (7x) lebih menunjuk
kepada keadaan miskin secara ekonomi (Kel 22:25;Im 19:10;23:22). Jadi dalam torah
kata ani adalah kaum yang
berkekurangan dalam kebutuhan hidup serta secara sosial mereka tidak berdaya
dan mudah menjadi objek penindasan. Dalam kita nabi-nabi kata ani (25x) menunjuk kepada kaum ditindas,
diperkosa hak asasinya, dan dimiskinkan ( Yes 3:14-15; 10:2,30; 14;30; Yer
22:16; Yeh 16:49; 18:12; Am 8;4 Hab 3:14;
Zef 3:12 Zak 7:10;9:9;11;7,11). Jadi kata ani adalah sebuah kelompok yang khusus di antara umat Allah dalam
PL yang menyatakan komitmen dirinya menjadi pengikut Yahweh.
Dalam
kitab Ayub juga kata ani 7x menggambarkan penderitaan kaum, ani dengan jelas mereka adalah kaum yang ditindas
(Ayub 24:4), kaum yang anaknya digadaikan karena kondisi kemiskinannya (Ayub
24:5), dan kaum korban dari pembunuhan yang semena-mena oleh penguasa ( Ayub
24:14).
Evyon secara umum kata ebyon berarti dalam kata torah ebyon 9x menunjuk kepada kaum lemah yang diperkosa hak
hidupnya ( Kel 23:6) dan kaum yang kehilangan tanah warisannya ( Kel 23:11),
kaum yang menerima santunan dari orang lain. ( Ul 15:7-80), kaum yang tertimpa
utang dan tak bisa mengembalikanya Ul 15:9-11.
Dalam kitab nabi-nabi ebyon 17x digunakan untuk menggambarkan, kaum
terinjak-injak derajat kemanusianya ( Am
8:4), kaum yang teraniaya oleh penguasa dalam masyrakat dan struktur sosial
yang buruk ( Yer 2:34; 20:13; Yeh 18:12 ), kaum yang tidak mendapat perlakuan
adil dalam lembaga pengadilan ( Yer 5:28; Am 5:12 band Yes 32:7). Dalam kitab
Yerimia miskin secara sosial, maka harus menderita dibawah kebahagian dan
keinginan untuk selalu memperoleh orang-orang kaya karena mereka tidak mendapat
keadilan ( Yer 5:28) kaum yang jatuh dalam perbudakan sebagai ganti untuk membayar
utang mereka.
Dal kata ini berasal dari Ugaritic yang berarti poor needy. Dalam torah kata dal 5x dan dalam kitab
kejadian digunakan untuk melukiskan keadaan orang yang miskin, tertindas, dan
terampas hak-hak kewajaranya sebagai soerang manusia. Sebenarnya dal adalah masih mampu membiayai
hidupnya setiap hari atau lebih tepat disebut mereka adalah petani-petani
kecil.
Dalam kitab nabi-nabi dal 12x telah berubah makna sesuai perubahan
struktur sosial dan menggambarkan, kaum yang menderita karena pengusahaan dan
penindasan ( Am 2:7 band 4:1 ; Am 5:11 ; Yes 14:30; Yer 5:4). Kaum yang di
pakai membayar pajak untuk membayar tanah, kaum yang dicelahka dalam
hukum-hukum utang perbudakan, kaum yang dilecehkan dalam lembaga pengadilan.
Ras dan makhor kata ras
15x hanya muncul dalam kitab Amsal yang ditujuhkan kepada kaum yang cara
hidupnya diwarnai permintaan belas kasihan ( Amsal 14:20; 18:23 ), kaum yang
tidak mempunyai teman ( Amsal 14:20;19:7) kaum yang menderita kemiskinan
disebabkan oleh kemalasanya ( Amsal 10:4) sedangkan kata makhor 8x kemiskinan sebagai akibat kemalasannya
(6:11;14:23 ;24:34 ) kemiskinan disebabkan oleh pemborosan ( Amsal 21:17).[2]
Bersadarkan pelbagai jenis kimiskinan diatas
itu menujukan bahwa haruslah di alami setiap manusia yang hidup khusus pada
zaman purba di Israel dalam dunia sebab
penderitan baik dalam segi ekonomi maupun dari penganiayan dizaman purba
maupun pasca modern ini tidak pernah
lepas dari hidup manusia kecuali mereka yang bergantung penuh kepada Allah.
Masyarakat
Israel yang hidup dari pertanian harus kehilangan hasil penen, disebabkan oleh
cuaca buruk sehingga terjadi bencana kelaparan. Keadaan tersebut mengakibatkan
banyak masyrakat yang membutuhkan uang untuk membeli benih. Namun solusi
terbaik bagi mereka yang membutuhkan uang, mereka melakukan peminjaman kepada
tuan dengan persayaratan hasil panen teserbut akan di beri untuk ganti uangnya.
Daniel C. snell menyatakan bahwa:
Pada
tahun-tahun kering para petani membutuhkan pinjaman dari satu musim , kemusim
panen berikutnya, dan tahun-tahun kering cenderung terjadi berturut-turut
secara mengerikan para petani dapat menggadaikan tanahnya kepada sanak
saudaranya seperti dalam Yeremia 32 atau dengan orang lain.[3]
C. Penyebab
kemiskinan khusus dalam Perjanjian Lama
Orang Yahudi pada umumnya berpedapat
bahwa orang yang mengalami kemiskinana bukti dirkarenakan
ketidaksetiannya kepada Allah. Bahkan kadang- kadang orang miskin dianggap
sebagai “aib sosial”.Mereka ada yang berpengang pada bunyi Firman Tuhan dari
kitab Amsal yang tertulis demikian “ Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya,
susah payah kerja tidak akan menambahinya” Amsal 10:22. Berkat Tuhan hanya akan
mengalir pada orang setia pada Tuhan, sehingga orang menjadi kaya. Namun
penyebab kemiskinan yang terjadi pada kalangan umat Israel dalam sejarahnya
yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama demikian.
1. Bencana
kelaparan membuat miskin (Kej 41:55-57).
2. Bencana
alam yang mengakibatkan panen rusak.
3. Pemerasan
ribah dalam berhutang.
4. Penindasaan
oleh yang berkuasa atau kaya (Am 5:12).
5. Miskin
akibat dijarah oleh musuh yang menyerang.
6. Kesalahn
manusia seperti malas, serakah peminum, lebih suak berbuat jahat seperti
mencuri, dan lainya.
Sebutan itu sesungguh Allah “ mengecam
keras” kepada orang malas (Amsal 6:6) dan serakah (Amsal 13:11), orang kaya
yang “menindas” orang yang lemah atau menindas yang miskin (Yer 2:34), supaya
yang memutar balikan keadilan dan merugikan orang miskin, lamban tang membuat
miskin ( Amsal 8:5;19:2), dan peminum . disebut , karena si peminum dan
sipelahap menjadi miskin dan kantuk membuat orang berpakaian compang –camping (
Amsal 23:21)[4].
Jadi kemiskinan maupun kekayaan
sebenarnya dihubungkan dengan Allah secara erat. Karena kedua topik tersebut
dianggap ada hungan timbal balik. Pandangan akan hal itu lebih ditujuhkan pada
segi etisnya dari pada segi ekonomisnya
dari pandangan alaminya.
Menurut siringo-ringo tentang pembahasan
kemiskinan Konsep mengenai siapakah yang dimaksud dengan orang miskin dalam
perjanjian lama dapat ditemukan dalam beberapa bagian penting yang memberikan
makna tentang orang miskin baik secara literal/harafiah maupun secara figuratif
singkatnya terdapat tiga garis besar klasifikasi dari definisi orang miskin
dalam perjanjian lama yaitu: Menunjuk kepada orang yang berkekurangan secara
material. Menunjuk kepada orang yang mengalami penindasan secara sosial serta.
menunjuk kepada orang yang miskin secara
rohani atau dapat pula diartikan sebagai orang berdosa.[5]
Pembahasan kimiskinan ini dalam
Perjanjian Lama. Kita akan melihat bagaimana sikap Allah terhadap mereka yang
mengalaminya. Allah memberikan perhatian besar terhadap orang miskin ,
menderita dan yang tertindas “ Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan
memperhatikan aku. Engkaulah, yang menolong aku dan meluputkan aku, ya Allahku,
janganlah berlambat” ( Mzm 40:18). Sebab Tuhan menjadi tempat pengungsian bagi
orang miskin dalam kesesakanya, perlindungan terhadap angin rebit naungan
terhadap panas terik ( Yes 25:4 ). Orang miskin dibentengi-Nya tehadap
penindasan ( Mzm 107:41).
Secara umum kemiskinan dapat disimpulkan
bahwa orang-orang yang secara meteri mengalami kekurangan atau ketidakmampuan
seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang cukup. Akan tetapi kemiskinan ekonomi
menunujukkan kurangnya sumberdaya dan relasi yang membuat masyrakat miskin
sangat peka terhadap penindasan dan
kekerasan. Dalam Perjanjian Lama mereka yang sering dihubungkan dengan
kemiskinan adalah janda, anak yatim dan orang-orang miskin dan orang asing.
Ketiga golongan tersebut selalu ada dalam organisasi khusus Israel yang
mengalami penindasan.
Pemeliharaan Allah kepada orang miskin
Dia menyatakan melalui berbagai tindakan aktif-Nya dalam pemeliharaan yang
mengankat manusia ( termasuk orang miskin ) sebagai yang menerima Allah dalam
dunia ini, dan melalui penggendalian-Nya atas alam semesta. Secara khusus
pemeliharaan Allah atas orang miskin dapat dilihat pada awalnya dalam segala
ketentuan dan aturan Israel sebagai suatu arahan peninjauan dalam menentukan
sikap. Dan perkembangan pemeliharaan Allah dapat dilihat melalui berbagai
nubuat para nabi serta berbagai hikmat yang berasal dari Allah sebagai
pemeliharaan dan pemerintahan Allah bagi orang-orang yang hidup dalam
kemiskinan. Konstitusi Israel terdiri dari hukum moral, dan hukum sipil, dan
hukum seremonial yang ditetapkan Allah melalui serangkaian Firman-Nya yaitu:
Dalam hukum moral. Hukum moral diawali
dengan pernyataan “ akulah Tuhan Allahmu
yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir” Kel 20:2 karena itu standar moral
untuk memutuskan apa yang salah dan apa yang benar dan jahat dietapkan
berdasarkan kekudusan dan karakter Yahweh.
Pernyataan ini merupakan penegasan makna
hukum moral dalam Kel 20:2, Namun hakikat dari Keluran 22:21-27 adalah Allah
telah menetapkan bahwa orang miskin janda, anak yatim, orang asing agar jangan
di tindas kerena demikian, Allah akan mendengarkan seruan mereka, serta murka
dan penghukuman-Nya akan bangkit karena Allah adalah kasih.
Dalam hukum sipil, terdiri dari
hukum-hukum yang mencerminkan kepedulian sosial dimana orang Israel akan hidup
dengan kepedulian yang benar terhadap sesamanya dalam dunia ini. Kel 23:6 ; Kel
23:11.[6]
Kedua jenis hukum diatas sangat
bermanfaat bagi kehidupan orang-orang Israel yang mengalami kemiskinan. Karena hukum
sebagai penopang bagi mereka agar jangan terus- menerus mereka di tindas oleh
pihak yang melakukan tindakan penindasan.
D. Pengertian
kemakmuran dalam Perjanjian Lama
Kemakmuran umumnya dianggap orang Yahudi
sebagai bukti berkat Allah. Abraham sangat kaya, banyak ternak, perak dan
emasnya. Kej 13:2 Pemazmur juga memuji megenai harta kekayaan, harta dan
kekayaan ada dalam rumahnya tetap untuk selamanya ( Mzm 112:1-3). Mereka di
berkati karena mepunyai iman yang baik yaitu Takut akan Tuhan dan moralnya pun
penuh dengan kebajikan. Ketika Allah menawarkan kepada Salomo ingin meminta apa
dan pasti akan- ku berikan. Raja Salomo hanya meminta hikmat dan pengertian
saja, Salomo tidak miminta kekayaan, harta benda kemulian atau nyawa
pembecianya, dan juga tidak meminta panjang umur.[7]
Jadi membicarakan tentang kemiskinan itu
tidak bisa dilepas dengan kemukmuran. dalam suatu kelompok pasti ada salah seorang diantara yang ekonominya tidak
memadai. Dalam Alkitab tidak pernah memberikan suatu larangan kepada Israel, berbicara
tengan kemkmuran itu tidak pernah lepas dari tanah karena dari tanalah orang
Israel mencari nafkah serta kediaman. Sumber pencaharian bagi orang Israel
adalah dari tanah atau pertanian. Bertani dilakukan oleh Israel dimaksud untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan menghasilkan barang sisa tambahan untuk dijual
diluar kebutuhan keluarganya.
Kesimpulan
Dalam narasi Alkitab sering
mengungkapkan bahwa Allah adalah sang pemilik kekayaan yang tak terbanding oleh
siapapun. Oleh sebab itu berdasarkan pembahasan kelompok diatas kami dapat
menarik kesimpulan bahwa perlu kita
ketahui secara detail apa alasan-alasan tertentu mengapa Allah injinkan bagi
umat-Nya mengalami kemiskinan agar hidup
mereka bergantung penuh dengan Allah dan disebabkan oleh beberapa faktor lain
juga. Allah memberkati mereka yang tekun untuk bekerja mencari nafkah (
kemakmuran). Dalam hal ini kita juga dapat mengetahui bagaimana campur tangan Allah
serta pemliharaan-Nya bagi mereka yang miskin dan kaya. Jadi dari sini Allah
mengambil suatu ketetapan untuk menghapuskan kemiskinan ditengah Israel, yakni
dengan cara pembagian tanah secara proporsional dan larangan merupakan bunga
uang atau riba selain itu, orang kaya dilarang menolak pinjaman dari saudaranya
yang miskin. Penghapusan kemiskinan tergambar dari penetapan tahun sabat dan
tahun Yobel dimana semua utang dihapuskan dan semua tanah yang digadaikan harus
dikembalikan kepada pemiliknya.
Komentar