Pendahuluan Tesis

“KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN”
Studi Tentang Integrasi Ibadah
Dengan Praksis Keadilan Dalam Kehidupan Sosial
Bertolak Dari Teologi Perjamuan Tuhan
Oleh: Pdt. Ramli Sianturi

A.                 LATAR BELAKANG MASALAH
Akhir-akhir ini muncul pertanyaan di seputar kehidupan ibadah gereja. Pertanyaan ini di akibatkan oleh fenomena yang terjadi di masyarkat seiring denganperkmbanga zaman yang secara khusus dipelopori oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada satu pihak, melalui khotbah-khotbah dan diskusi-diskusi, ibadah dihubungkan dengan realitas hidup harian di tengah masyarakat. Sementara dipihak lain, ibadah masih dimaknai seputar ritual gereja, yakni lebih menekankan relasi vertical dan kurang peka terhadap persoalan-persoalan masyarakat yang terjadi dalam kehidupan sekuler atau di luar gereja. Di antara kedua sikap ini perkembangan modern yang berpuncak pada globalisasi menuntut sekaligus menantang kehadiran gereja; apakah gereja terlibat atau menarik diri dari dunia. Hal ini terkait erat dengan jatidiri gereja sebagai yang bukan dari dunia, dan tugas panggilannya sebagai yang ada di dan diutus ke dalam dunia.
Ibadah adalah pusat dan puncak kehidupan gereja. Disebut pusat dan puncak kehidupan gereja, karena semua teologi gereja bermuara dan dirayakan/diaktualkan dalam ibadah.[1] Ibadah, bukan saja sebagai ekspresi iman kepada Tuhan (vertikal), tetapi juga melibatkan aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari (horizontal). Melalui simbol-simbol dan unsur-unsur Ibadah, gereja diarahkan dan didorong untuk melakukan tugas panggilannya sebagai doulos Allah, baik ke dalam maupun ke luar. Dengan kata lain, ibadah menjadikan gereja sebagai pelaku keadilan yang menyelaraskan apa yang didengar dan dialami dalam ibadah (ritual) dengan apa yang terjadi dalam realitas hidup sehari-hari.[2]
Salah satu unsur ibadah yang penting dan mempunyai hubungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah sakramen[3] Perjamuan Tuhan.[4] Disebut penting, karena Perjamuan Tuhan merupakan struktur yang paling khas dari ibadah gereja dan bentuk yang paling luas digunakan dan dirayakan oleh gereja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.[5] Bahkan menurut Emanuel Gerrit Singgih, seorang teolog Protestan Indonesia, “Perjamuan Tuhan adalah bagian yang paling penting dalam ibadah,”[6] selain itu, Perjamuan Kudus adalah sakramen. Alat keselamatan,[7] yang melaluinya, gereja dipakai oleh Roh Kudus untuk memberlakukan hasil karya penyelamatan Kristus dalam mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah, yaitu kasih, keadilan dan damai sejahtera.[8]
Disebut dekat dengan kehidupan manusia, karena Perjamuan Terakhir yang dikerjakan Yesus bersama murid-murid-Nya yang kemudian diteruskan dan dipraktekkan gereja dari masa ke masa sebagai sakramen Perjamuan Tuhan, mengambil simbol kehidupan manusia yang paling lazim dan dialami oleh seluruh umat manusia, yakni jamuan makan, sebagai konteks penyataan diri-Nya.
Perjamuan atau jamuan makan berperan sebagai pengesahan perjanjian, melambangkan usaha mempertahankan kehidupan, melambangkan persahabatan dan persekutuan hati[9], sehingga setiap orang yang ikut serta dalam perjamuan yang bertekad dan berjanji untuk memberlakukan maksud dan tujuan perjamuan yang diikuti. Dengan demikian, perjamuan memiliki nilai sosial dan sekaligus religus.
Dalam terang inilah Yesus menjadikan Perjamuan Terakhir sebagai konteks penyataan diri-Nya yang diperintahkan-Nya untuk dipraktekkan murid-murid (=gereja) sebagai peringatan akan diri-Nya sampai Ia datang kembali. Memang Perjamuan Terakhir bukan satu-satunya kisah atau konteks penyataan diri Yesus atau cara Allah berhubungan dengan manusia dan dunia, akan tetapi “di dalam kisah ini ditemukan kunci hermeneutis untuk membaca dan menuturkan ulang berbagai kisah (konteks) lainnya.”[10]


B.                 RUMUSAN MASALAH
Perjamuan terakhir yang dikerjakan Yesus bersama murid-muridNya ada dalam konteks perayaan Paskah Yahudi.[11] Pada perayaan ini umat Isarel memperingati tindakan Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan menyelamatkan mereka menjadi umat kepunyaan-Nya. Namun di tangan Yesus, perayaan Paskah, yang di dalamnya Perjamuaan Terkahir ditetapkan, tidak lagi melulu menoleh ke belakang, pada masa lampau di Mesir, tetapi mengarahkan pandangan ke depan, yakni pada Kerajaan Allah yang sedang dinyatakan di dalam diri-Nya melalui seluruh hidup dan karya pelayanan-Nya demi tujuan Allah dan bagi keselamatan dunia. Melalui Perjamuan Terakhir, masa lampau dan masa yang akan datang menjadi hadir dan nyata dalam diri Yesus, yaitu seluruh hidup, pelayanan, pengorbanan, kematian, kebangkitan, kenaikan dan kedatangan-Nya kembali.
Pertama, Perjamuan Terakhir ini berlangsung dalam konteks masyarakat yang “lapar” dalam arti luas. Mayoritas masyarakat Israel selaku komunitas Yesus mengalami penindasan dan penderitaan (=lapar); baik secara fisik maupun rohani. Penindasan dan penderitaan ini terjadi dalam seluruh aspek kehidupan umat Israel, baik politik, ekonomi, sosial maupun aspek keagamaan. Dalam bidang politik para penguasa atau pemerintah hanya mengedepankan pelestarian kekuasaan dan keuntungan-keuntungannya, bahkan tidak jarang terjadi penggunaan segala cara.[12] Dalam bidang ekonomi, sitem perekonomian yang berlaku adalah sitem yang berpihak pada pemilik modal dan untuk kepentingan-kepentingan tuan-tuan tanah.[13]Demikianpun dalam bidang sosial, kehidupan disusun berdasarkan batas-batas atau kelas-kelas sosial yang kaku dan tajam yang cenderung mematikan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan jarang mengorbankan manusia itu sendiri.[14] Yang sungguh memprihatinkan adalah dunia agama. Pemimpin-pemimpin agama yang seyogianya mencerahkan hati dan menguatkan umat, ternyata mereka malah ikut terlibat untuk menghancurkan umat, yakni membuat peraturan-peraturan agama yang ketat dan secara khusus ditujukan kepada rakyat atau umat, sementara para pemeimpin agama berperang sebagai hakim yang menilai dan menghakimi, lalu kemudian menikmati hasil-hasilnya. Selain itu, para pemimpin agama ini melakukan kolusi atau kompromi dengan penguasa demi status quo dan kesejahteraan mereka.[15]
Kedua, Yesus menetapkan Perjamuan Terakhir sebagai konteks penyataan diri-Nya dan Kerajaan Allah yang meringkaskan seluruh hidup, karya, kematian dan kebangkitan-Nya dengan mentransformasi ibadah Paskah dan Bait Allah ke dalam diri-Nya. Dengan mengambil “Perjamuan” sebagai konteks penyataan diri-Nya, Perjamuan Terakhir menjelaskan hal-hal yang paling mendasar dari manusia dan kehidupannya. Dalam jamuan makan, yang makan ialah setiap orang yang hadir dalam perjamuan dengan keseluruhan jiwa raga, dambaan dan cita-citanya dan sekaligus memberi arti kepada makan.[16] Yang terjadi dalam jamuan makan adalah saling berbagi kehidupan dan saling berjanji bagi terwujudnya harapan-harapan yang “dimeteraikan” dalam jaman itu. “Karena itu jamuan makan menjadi sarana dan lambang yang paling mulia untuk menghayati persudaran dan nilai-nilai kemanusiaan.”[17] Hal ini dihayati oleh seluruh umat manusia dalam setiap budayanya, termasuk bangsa Yahudi[18] di mana Yesus hidup dan berkarya. Dalam setiap perjamuan yang dilakukan-Nya, Yesus selalu menghubungkan perjamuan-Nya dengan kebutuhan dasar manusia, sebagaiman disaksikan oleh Alkitab.[19] Dalam peristiwa perjamuan, Yesus menyelamatkan pemilik pesta dari rasa malu karena kehabisan anggur (Yohanes 2:1-11). Yesus juga menyembuhkan orang sakit (Markus 1:29-31) dan mengampuni orang berdosa (Lukas 7:36-50) serta memberi makan mereka yang lapar (Markus 6:30-44; 8:1-10).  Bahkan Yesus solider dengan mereka yang ditolak dan dipinggirkan oleh masyarakat (Lukas 5:27-32).
Selain itu, Yesus menetapkan Perjamuan Terakhir dalam konteks demonstrasi-Nya di Bait Allah dan tindakan Yesus mengutuk pohon ara. Tindakan ini ditujukan kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang menyalahgunakan arti dan fungsi Bait Allah dan sekaligus pemakluman akhir dari Bait Allah. Lebih lanjut Yesus melangsungkan Perjamuan Terakhir bersama murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia diserahkan dalam perayaan atau ibadah Paskah[20].
Dengan demikian, Perjamuan Terakhir merupakan ibadah alternatif menggantikan ibadah Bait Allah yang mengintergrasikan perayaan (ritual) dan pelayanan atau praksis keadilan di tengah dunia. Kenyataan ini diperkuat oleh pengajaran Yesus dalam Doa Bapa Kami dan kisah pemberian makan 5000 orang.
Ketiga, Perjamuan Tuhan sebagai pengulangan Perjamuan Terakhir[21], yang diteapkan oleh Yesus Kristus, merupakan pusat dari tindakan ibadah gereja.[22] Disebut pusat karena Perjamuan Tuhan sebagai simbol dari tindakan penyelamatan Allah dalam sejarah manusia yang terjadi di dalam Yesus Kristus adalah dasar dan hakekat ibadah. Sebagai pemadatan dari seluruh hidup, pelayanan, kematian, kebangkitan, kenaikan dan kedatangan-Nya kembali, Perjamuan Tuhan juga menginisiasikan arti dan bentuk atau pola ibadah gereja sebgai peringatan dan sekaligus pemberitaan kematian Tuhan Ia datang kembali. Di sinilah ibadah mendapatkan signifikansi dan relevansinya dalam dunia.

C.                 PEMBATASAN MASALAH
Penulis membatasi penelitian pada tiga hal, yakni:
Pertama,Pokok penelitian. Pokok penelitian adalah Perjamuan Terakhir, yaitu perjamuan yang dilangsungkan Yesus bersama murid-murid-Nya di ruangan atas, di Yerusalem, pada malam sebelum Ia diserahkan, sebagaiman dilaporkan oleh keempat kitab Injil dan Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus.
Kedua, Fokus penelitian. Penelitian difokuskan pada usaha menggali dan menemukan praksis keadilan sosial Perjamuan Terakhir.
Ketiga, Sasaran penelitian. Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui integrasi ibadah dengan praksis keadilan di tengah kehidupan sosial.

D.                 HIPOTESA
Perjamuan Terkhir yang dikerjakan Yesus bersama murid-murid-Nya adalah permulaan ibadah baru di dalam Yesus Kristus yang menegaskan integrasi perayaan dan pelayanan. Di pihak lain, Perjamuan Tuhan yang dirayakan gereja adalah pengulangan terhadap Perjamuan Terakhir yang berfungsi sebagai tindakan pusat ibadah gereja. Karena itu ibadah gereja tidak terpisahkan dari persoalan hidup yang terjadi di tengah masyarakat. Ibadah sebagai perayaan integral dengan pelayanan atau praktek hidup sehari-hari. Konkretnya, seluruh hidup adalah ibadah.

E.                  ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Penelitian ini diberi judul:
“KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN”
Studi tentang Integrasi Ibadah
dengan Praksis Keadilan dalam Kehidupan Sosial
Bertolak dari Teologi Perjamuan Tuhan

Paling tidak ada dua alasan memilih judul ini, antara lain:
1.                   Menarik
Judul di atas menarik untuk dibahas sebab Yesus menjadikan satu tradisi manusia yang paling lazim, yakni perjamuan sebagai konteks penyataan diri-Nya, khususnya mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Dan tindakan Yesus ini tidak hanya berhenti pada tataran teologis (religius) saja, tetapi tentunya juga memiliki dimensi lain, yaitu dimensi sosial. Selain tradisi perjamuan itu sendiri sebagai yang bersifat sosial, seluruh hidup dan pelayanan Yesus secara nyata dan signifikan dihubungkan dengan persoalan sosial yang dihadapi umat pada waktu itu.
2.                   Penting
Penelitian terhadap Perjamuan Terakhir bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai sosialnya, yakni nilai-nilai yang bertalian dengan kehidupan manusia dan dunia pada zaman Yesus, dan menghubungkannya dengan ibadah Kristen. Hubungan ini diharapkan mampu menjelaskan implikasi sosial atau praksis keadilan ibadah, dan olehnya memberi sumbangsih yang sangat penting bagi tugas panggilan dan perutusan gereja ke dalam dunia.

F.                  METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian yang penulis pergunakan dalam karya ilmiah ini adalah metode penelitian literatur atau kepustakaan, yakni membaca sejumlah buku-buku dan dokumen-dokumen yang memiliki kaitan dengan pokok penelitain guna mendapatkan data-data dan informasi dan kemudian diberi catatan dan analisa terhadapnya.

G.                 SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan ini dibagi dalam enam bagian.
PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan dikemukakan beberapa hal yang diharapkan dapat memperjelas penelitian yang akan dilakukan. Bagian ini meliputi latar belakang, rumusan dan pembatasan masalah, hipotesa, alasan pemilihan judul, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB I: KELAPARAN: KONTEKS PERJAMUAN TERAKHIR
Bab ini menguraikan keadaan masyarakat Israel pada masa Yesus, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, maupun keagamaan. Selanjutnya dipaparkan konteks Perjamuan Terakhir, yakni konteks perjamuan, demonstrasi di Bait Allah, Perayaan Paskah dan beberapa kisah perjamuan yang diikuti Yesus. Dan terakhir, diuraikan arti dan makna Doa Bapa Kami: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan kisah pemberian makan 5000 orang yang memiliki keterkaitan dengan Perjamuan Terakhir.

BAB II: PERJAMUAN TERAKHIR
Bab ini menguraikan Perjamuan Terakhir yang dikerjakan Yesus bersama murid-murid-Nya sebelum Ia diserahkan berdasarkan data-data dari keempat kitab Injil dan I Korintus; baik karakteristiknya, pemahaman atau sudut pandang masing-masing penulis tentang Perjamuan Terakhir dan amanat penetapan Perjamuan Terakhir. Selanjutnya bagian-bagian ini dianalisa.

BAB III: PERJAMUAN TERAKHIR SEBAGAI PRAKSIS KEADILAN
Pada bab ini, penulis menganalisa keterangan-ketarangan yang sudah diutarakan pada bab sebelumnya untuk menggali nilai-nilai sosial Perjamuan Terakhir yang berpusat pada Kerajaan Allah. Bagian ini meliputi kesataraan dan persatuan umat manusia, tuntutan perubahan yang radikal, solidaritas dan pembebasan, berbagai kehidupan, bukan menguasai.

BAB IV: PERJAMUAN TERAKHIR DAN IBADAH GEREJA
Bab ini menjelaskan bahwa Perjamuan Tuhan sebagai pengulangan Perjamuan Terakhir adalah tindakan pusat ibadah yang menegskan integrasi ibadah ritual dengan praktek hidup sehari-hari. Bagian ini meliputi hubungan Perjamuan Terakhir dengan Perjamuan Tuhan, ibadah menurut kesaksian Alkitab, ibadah sebagai perayaan akan Yesus Kristus, Yesus Kristus sebagai sakramen Allah, Perjamuan Tuhan sebagai tindakan pusat ibadah, keadilan adalah sifat dasar ibadah, seluruh hidup adalah ibadah.

BAB V: PENUTUP
Bab ini mengemukakan refleksi teologis dari penulis yang meliputi kesimpulan dari seluruh tulisan ini, dan beberapa usulan konkret praktis, serta harapan-harapan pada gereja-gereja di Indonesia, khusunya Protestan, dalam memaknai dan mempraktikkan ibadah (liturgi) sebagai perayaan dan pelayanan.



[1] Bnd. Komisi Liturgi KWL, Kursus Dasar Teologi Liturgi, (Yogyakarta: Komisi Liturgi KWI, 1990), 15-16, yang mengartikan ibadah (litugi) sebagai puncak semua kegiatan gereja, karena semua usaha kerasulan mempunyai satu tujuan, yakni agar semua orang berhimpun menjadi satu untuk memuliakan Allah dan untuk berpartisipasi dalam korban dan Perjamuan Tuhan.
[2]Penjelasan mengenai hubungan ibadah dengan kehidupan sehari-hari, khususnya masalah-masalah sosial, diuaraikan secara baik dan terang oleh Ion Bria dengan menggunakan tipologi the liturgy after the liturgy yang menegaskan bahwa liturgi atau ibadah membentuk ulang (reshape) kehidupan sosial gereja (orang Kristen) dengan kepedulian yang baru tentang keadilan dalam kehidupan manusia. Lihat Ion Bria, The Liturgy after the Liturgy: Mission and Witness from an Orthodox Perspektive, (Geneva: WWC Publications, 1996), 19-35 (selanjudnya disebut: Bria, The Liturgy). Ibadah berada pada pusat praktek kehidupan orang Kristen: Forrester, McDonald & Tellini, Encounter WithGod: An Introduction to Christian Worship and Practice, (Edinburgh: T&T Clark, 1996), 3 (selanjutnya disebut: McDonald & Tellini, Forrester, Encounter with God). Hal yang sama juga diuraikan oleh Malcolm Brownlee dalam bukunya: Tugas manusia dalam Dunia Milik Tuhan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. Kelima, 2014), 19-24 (Selanjutnya disebut: Brownlee, Tugas Manusia).

[3] Istilah “sakramen” tidak dijumpai dalam Alkitab. Kata ini berasal dari kata Latin sacramentum dan pertama kali digunakan oleh Tertullianus untuk menerjemahkan kata mysterion, yang menunjuk secara khusus pada Perjamuan Kudus. Agustinus mengartikan sakramen, yang kemudian ditegaskan oleh gereja Anglikan, sebagai bentuk/bagian luar dan tanda yang kelihatan dari bagian dalam dan anugerah spiritual yang tidak kelihatan. Lihat John Macquarre, A Guide to the Sacraments, (London: SCM Press Ltd, 1997), 1-11 (Selanjutnya disebut: Macquarre, A Guide), Kemudian James T. White memperjelas pengertian ini dengan menyebut sakramen sebagai kasih Allah yang dijadikan kelihatan dengan menekankan pemberian diri Allah sebagai relaitas, masa kini yang hadir dalam waktu dan tempat kita sendiri, sekarang dan disini. Ia menambahkan bahwa Sakramen merefleksikan apa arti menjadi manusia secara penuh. Lihat James T. White, Pengantar Ibadah Kristen, (terj)(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 165-195 (Selanjutnya disebut: White, Pengantar Ibadah).
[4] Sebutan lain dari Perjamuan Kudus adalah Perjamuan Tuhan, Ekaristi, Perjamuan Malam, Pemecahan Roti, Anafora, Collecta dan Misa. Lihat Jurnal Ledalero, Ekaristi dan Solidaritas, Vol. 4, No. 1, Juni 2005, 16-19 (Selanjutnya disebut: JURNAL LEDALERO).
[5] White, Pengantar Ibadah, 227.
[6] Emanuel Gerrit Singgih, Mengantisipasi Masa Depan: Berteologi dalam Konteks di awal Millennium III, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 81.
[7] Yang dimaksud dengan “alat keselamatan” adalah jalan atau alat lahiriah yang bisa dipakai oleh Roh Kudus untuk menerapkan buah karya penyelamatan Kristus guna mengumpulkan dan memelihara umat-Nya: Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. Kesepuluh, 1995), 418 (Selanjutnya disebut: Hadiwijono, Iman Kristen).
[8] Edward M. Grosz (ed), Liturgy and Social Justice: Celebrating Rites-Proklaiming Rights, (Collegeville: The iturgical Press, 1988), 9 (Selanjutnya disebut: Grosz, Liturgy and Social).
[9] Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru (terj.) (Yogyakarta: Kanasius, 1990), 295 (Selanjutnya disebut: Leon- Dufour, Ensiklopedi).
[10] JURNAL LEDALERO, 82.
[11] Perjamuan Terakhir menurut Injil Sinoptik adalah Perjamuan Paskah, sedangkan Injil Yohanes menguraikannya sebagai perjamuan perpisahan atau persaudaraan. Berbeda dengan penulis Sinoptik dan Yohanes, Paulus tidak secara tegas menyebutkan karakteristik Perjamuan terakhir. Namun bila dibaca dan diteliti, secara mendalam, pemaparan Paulus tentang Perjamuan Terakhir lebih dekat dengan pemaparan Yohanes. Baik penulis Sinoptik, Yohanes maupun Paulus, ketika memaparkan Perjamuan Terakhir, sama-sama dijiwai pemikiran tentang Paskah atau apa yang mereka sampaikan dalam tulisan mengenai Perjamuan terakhir ada dalam konteks perayaan Paskah.
[12] Lihat E. Stambaugh and David L. Balch, The New Testament in its Social Environment (Philadelphia: The Westminster Press, 1986), 13-16 (Selanjutnya disebut: Stambaugh & Balch, The New Testament).
[13] Ibid., 63-81.
[14] Marcus J. Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali (terj.) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 59-60 (Selanjutnya disebut: Borg, Kali Pertama).
[15] Joseph A. Grassi, Perwujudan Ekaristi: Praksis Keadilan Dalam Kehidupan Sosial, (terj.) (Yogyakarta: Kanasius, 1989), 17-19 (Selanjutnya disebut: Grassi, Perwujudan Ekaristi).
[16] Y.B. Mangunwijaya, Rangawidja: Religiositas Hal-hal Sehari-hari, (Yogyakarta: Kanasius, 1992), 97 (Selanjutnya disebut: Mangunwijaya, Ragawidya).
[17] Ibid., 98
[18] Ada dua kisah perjamuan religus, yang tidak ditemukan dalam Alkitab namun memilki makna bagi komunitas Yahudi, yaitu kisah perjamuan Joseph dan Asenath (Yudaisme), dan juga perjamuan Qumran (Eseni): G.D. Kilpatrick, The Eucharist in Bible and Liturgy, (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 59-68 (Selanjutnya disebut: Kilpatrick, The Eucharistic in Bible).
[19] Mc Donald & Tellini, Forrester, Encounter with God, 172-176.
[20] Terlepas dari problematik apakah Perjamuan Terakhir adalah Perjamuan Paskah atau tidak, tapi yang pasti keduanya memiliki hubungan yang erat: Donald Bridge & David Phypers, Communion: The Meal that Unites? (Illinois: Harold Shaw Publishers, 1981), 14, dan lihat Alasdair I.C. Heron, Table and Tradition: Toward an Ecumrnical Understanding of the Eucharist, (Philadelphia: The Westminster Press, 1983), 17-33 (Selanjutnya disebut: Heron, Table and Tradition).
[21] Colin Brown (gen. ed.), The New International Dictionary of New Testament Theology (Grand Rapids: Zondervan Publihing House, 1981, s.v. Lord’s Supper (B. Klappert) (Selanjutnya disebut: Colin Brown (gen.ed.), The New International).
[22] Olive Wyon, The Altar Fire: Reflections on the Sacrament of the Lord’s Supper (Philadelphia: The Westminster Press, 1954), 23 (Selanjutnya disebut: Wyon, The Altar Fire).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGAJARAN ALLAH TRITUNGGAL MENURUT ERASTUS SABDONO”

Proposal Skripsi

Ajaran Sesat