Pendahuluan Tesis
“KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN”
Studi Tentang Integrasi Ibadah
Dengan Praksis Keadilan Dalam Kehidupan
Sosial
Bertolak Dari Teologi Perjamuan Tuhan
Oleh: Pdt. Ramli Sianturi
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Akhir-akhir ini muncul pertanyaan di seputar kehidupan
ibadah gereja. Pertanyaan ini di akibatkan oleh fenomena yang terjadi di
masyarkat seiring denganperkmbanga zaman yang secara khusus dipelopori oleh
ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada satu pihak, melalui khotbah-khotbah dan
diskusi-diskusi, ibadah dihubungkan dengan realitas hidup harian di tengah
masyarakat. Sementara dipihak lain, ibadah masih dimaknai seputar ritual
gereja, yakni lebih menekankan relasi vertical dan kurang peka terhadap
persoalan-persoalan masyarakat yang terjadi dalam kehidupan sekuler atau di
luar gereja. Di antara kedua sikap ini perkembangan modern yang berpuncak pada
globalisasi menuntut sekaligus menantang kehadiran gereja; apakah gereja
terlibat atau menarik diri dari dunia. Hal ini terkait erat dengan jatidiri
gereja sebagai yang bukan dari dunia,
dan tugas panggilannya sebagai yang ada
di dan diutus ke dalam dunia.
Ibadah adalah pusat dan puncak kehidupan gereja. Disebut
pusat dan puncak kehidupan gereja, karena semua teologi gereja bermuara dan
dirayakan/diaktualkan dalam ibadah.[1]
Ibadah, bukan saja sebagai ekspresi iman kepada Tuhan (vertikal), tetapi juga
melibatkan aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari (horizontal). Melalui
simbol-simbol dan unsur-unsur Ibadah, gereja diarahkan dan didorong untuk
melakukan tugas panggilannya sebagai doulos
Allah, baik ke dalam maupun ke luar. Dengan kata lain, ibadah menjadikan gereja
sebagai pelaku keadilan yang menyelaraskan apa yang didengar dan dialami dalam
ibadah (ritual) dengan apa yang terjadi dalam realitas hidup sehari-hari.[2]
Salah satu unsur ibadah yang penting dan mempunyai hubungan
yang dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah sakramen[3]
Perjamuan Tuhan.[4]
Disebut penting, karena Perjamuan Tuhan merupakan struktur yang paling khas
dari ibadah gereja dan bentuk yang paling luas digunakan dan dirayakan oleh
gereja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.[5]
Bahkan menurut Emanuel Gerrit Singgih, seorang teolog Protestan Indonesia, “Perjamuan
Tuhan adalah bagian yang paling penting dalam ibadah,”[6]
selain itu, Perjamuan Kudus adalah sakramen. Alat keselamatan,[7]
yang melaluinya, gereja dipakai oleh Roh Kudus untuk memberlakukan hasil karya
penyelamatan Kristus dalam mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah, yaitu kasih,
keadilan dan damai sejahtera.[8]
Disebut dekat dengan kehidupan manusia, karena Perjamuan
Terakhir yang dikerjakan Yesus bersama murid-murid-Nya yang kemudian diteruskan
dan dipraktekkan gereja dari masa ke masa sebagai sakramen Perjamuan Tuhan,
mengambil simbol kehidupan manusia yang paling lazim dan dialami oleh seluruh
umat manusia, yakni jamuan makan, sebagai
konteks penyataan diri-Nya.
Perjamuan atau jamuan makan berperan sebagai pengesahan
perjanjian, melambangkan usaha mempertahankan kehidupan, melambangkan
persahabatan dan persekutuan hati[9],
sehingga setiap orang yang ikut serta dalam perjamuan yang bertekad dan
berjanji untuk memberlakukan maksud dan tujuan perjamuan yang diikuti. Dengan
demikian, perjamuan memiliki nilai sosial dan sekaligus religus.
Dalam terang inilah Yesus menjadikan Perjamuan Terakhir
sebagai konteks penyataan diri-Nya yang diperintahkan-Nya untuk dipraktekkan
murid-murid (=gereja) sebagai peringatan akan diri-Nya sampai Ia datang
kembali. Memang Perjamuan Terakhir bukan satu-satunya kisah atau konteks
penyataan diri Yesus atau cara Allah berhubungan dengan manusia dan dunia, akan
tetapi “di dalam kisah ini ditemukan kunci hermeneutis untuk membaca dan
menuturkan ulang berbagai kisah (konteks) lainnya.”[10]
B.
RUMUSAN
MASALAH
Perjamuan terakhir yang dikerjakan Yesus bersama
murid-muridNya ada dalam konteks perayaan Paskah Yahudi.[11]
Pada perayaan ini umat Isarel memperingati tindakan Allah yang membebaskan
mereka dari perbudakan Mesir dan menyelamatkan mereka menjadi umat
kepunyaan-Nya. Namun di tangan Yesus, perayaan Paskah, yang di dalamnya
Perjamuaan Terkahir ditetapkan, tidak lagi melulu menoleh ke belakang, pada
masa lampau di Mesir, tetapi mengarahkan pandangan ke depan, yakni pada
Kerajaan Allah yang sedang dinyatakan di dalam diri-Nya melalui seluruh hidup
dan karya pelayanan-Nya demi tujuan Allah dan bagi keselamatan dunia. Melalui
Perjamuan Terakhir, masa lampau dan masa yang akan datang menjadi hadir dan
nyata dalam diri Yesus, yaitu seluruh hidup, pelayanan, pengorbanan, kematian,
kebangkitan, kenaikan dan kedatangan-Nya kembali.
Pertama, Perjamuan Terakhir ini berlangsung dalam konteks
masyarakat yang “lapar” dalam arti luas. Mayoritas masyarakat Israel selaku
komunitas Yesus mengalami penindasan dan penderitaan (=lapar); baik secara
fisik maupun rohani. Penindasan dan penderitaan ini terjadi dalam seluruh aspek
kehidupan umat Israel, baik politik, ekonomi, sosial maupun aspek keagamaan.
Dalam bidang politik para penguasa atau pemerintah hanya mengedepankan
pelestarian kekuasaan dan keuntungan-keuntungannya, bahkan tidak jarang terjadi
penggunaan segala cara.[12]
Dalam bidang ekonomi, sitem perekonomian yang berlaku adalah sitem yang
berpihak pada pemilik modal dan untuk kepentingan-kepentingan tuan-tuan tanah.[13]Demikianpun
dalam bidang sosial, kehidupan disusun berdasarkan batas-batas atau kelas-kelas
sosial yang kaku dan tajam yang cenderung mematikan nilai-nilai kemanusiaan,
bahkan jarang mengorbankan manusia itu sendiri.[14]
Yang sungguh memprihatinkan adalah dunia agama. Pemimpin-pemimpin agama yang
seyogianya mencerahkan hati dan menguatkan umat, ternyata mereka malah ikut
terlibat untuk menghancurkan umat, yakni membuat peraturan-peraturan agama yang
ketat dan secara khusus ditujukan kepada rakyat atau umat, sementara para
pemeimpin agama berperang sebagai hakim yang menilai dan menghakimi, lalu
kemudian menikmati hasil-hasilnya. Selain itu, para pemimpin agama ini
melakukan kolusi atau kompromi dengan penguasa demi status quo dan kesejahteraan mereka.[15]
Kedua, Yesus menetapkan Perjamuan Terakhir sebagai konteks
penyataan diri-Nya dan Kerajaan Allah yang meringkaskan seluruh hidup, karya,
kematian dan kebangkitan-Nya dengan mentransformasi ibadah Paskah dan Bait
Allah ke dalam diri-Nya. Dengan mengambil “Perjamuan” sebagai konteks penyataan
diri-Nya, Perjamuan Terakhir menjelaskan hal-hal yang paling mendasar dari
manusia dan kehidupannya. Dalam jamuan makan, yang makan ialah setiap orang
yang hadir dalam perjamuan dengan keseluruhan jiwa raga, dambaan dan
cita-citanya dan sekaligus memberi arti kepada makan.[16]
Yang terjadi dalam jamuan makan adalah saling berbagi kehidupan dan saling
berjanji bagi terwujudnya harapan-harapan yang “dimeteraikan” dalam jaman itu.
“Karena itu jamuan makan menjadi sarana dan lambang yang paling mulia untuk
menghayati persudaran dan nilai-nilai kemanusiaan.”[17]
Hal ini dihayati oleh seluruh umat manusia dalam setiap budayanya, termasuk
bangsa Yahudi[18]
di mana Yesus hidup dan berkarya. Dalam setiap perjamuan yang dilakukan-Nya,
Yesus selalu menghubungkan perjamuan-Nya dengan kebutuhan dasar manusia,
sebagaiman disaksikan oleh Alkitab.[19]
Dalam peristiwa perjamuan, Yesus menyelamatkan pemilik pesta dari rasa malu
karena kehabisan anggur (Yohanes 2:1-11). Yesus juga menyembuhkan orang sakit
(Markus 1:29-31) dan mengampuni orang berdosa (Lukas 7:36-50) serta memberi
makan mereka yang lapar (Markus 6:30-44; 8:1-10). Bahkan Yesus solider dengan mereka yang
ditolak dan dipinggirkan oleh masyarakat (Lukas 5:27-32).
Selain itu, Yesus menetapkan Perjamuan Terakhir dalam
konteks demonstrasi-Nya di Bait Allah dan tindakan Yesus mengutuk pohon ara.
Tindakan ini ditujukan kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang
menyalahgunakan arti dan fungsi Bait Allah dan sekaligus pemakluman akhir dari
Bait Allah. Lebih lanjut Yesus melangsungkan Perjamuan Terakhir bersama
murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia diserahkan dalam perayaan atau ibadah
Paskah[20].
Dengan demikian, Perjamuan Terakhir merupakan ibadah
alternatif menggantikan ibadah Bait Allah yang mengintergrasikan perayaan
(ritual) dan pelayanan atau praksis keadilan di tengah dunia. Kenyataan ini
diperkuat oleh pengajaran Yesus dalam Doa
Bapa Kami dan kisah pemberian makan
5000 orang.
Ketiga, Perjamuan Tuhan sebagai pengulangan Perjamuan
Terakhir[21],
yang diteapkan oleh Yesus Kristus, merupakan pusat dari tindakan ibadah gereja.[22]
Disebut pusat karena Perjamuan Tuhan sebagai simbol dari tindakan penyelamatan
Allah dalam sejarah manusia yang terjadi di dalam Yesus Kristus adalah dasar
dan hakekat ibadah. Sebagai pemadatan dari seluruh hidup, pelayanan, kematian,
kebangkitan, kenaikan dan kedatangan-Nya kembali, Perjamuan Tuhan juga
menginisiasikan arti dan bentuk atau pola ibadah gereja sebgai peringatan dan
sekaligus pemberitaan kematian Tuhan Ia datang kembali. Di sinilah ibadah
mendapatkan signifikansi dan relevansinya dalam dunia.
C.
PEMBATASAN
MASALAH
Penulis membatasi penelitian pada tiga hal, yakni:
Pertama,Pokok
penelitian. Pokok penelitian adalah Perjamuan Terakhir, yaitu perjamuan
yang dilangsungkan Yesus bersama murid-murid-Nya di ruangan atas, di Yerusalem,
pada malam sebelum Ia diserahkan, sebagaiman dilaporkan oleh keempat kitab
Injil dan Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus.
Kedua, Fokus
penelitian. Penelitian difokuskan pada usaha menggali dan menemukan praksis
keadilan sosial Perjamuan Terakhir.
Ketiga, Sasaran
penelitian. Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui integrasi ibadah
dengan praksis keadilan di tengah kehidupan sosial.
D.
HIPOTESA
Perjamuan
Terkhir yang dikerjakan Yesus bersama murid-murid-Nya adalah permulaan ibadah
baru di dalam Yesus Kristus yang menegaskan integrasi perayaan dan pelayanan.
Di pihak lain, Perjamuan Tuhan yang dirayakan gereja adalah pengulangan
terhadap Perjamuan Terakhir yang berfungsi sebagai tindakan pusat ibadah
gereja. Karena itu ibadah gereja tidak terpisahkan dari persoalan hidup yang
terjadi di tengah masyarakat. Ibadah sebagai perayaan integral dengan pelayanan
atau praktek hidup sehari-hari. Konkretnya, seluruh hidup adalah ibadah.
E.
ALASAN
PEMILIHAN JUDUL
Penelitian
ini diberi judul:
“KAMU
HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN”
Studi
tentang Integrasi Ibadah
dengan
Praksis Keadilan dalam Kehidupan Sosial
Bertolak
dari Teologi Perjamuan Tuhan
Paling
tidak ada dua alasan memilih judul ini, antara lain:
1.
Menarik
Judul di
atas menarik untuk dibahas sebab Yesus menjadikan satu tradisi manusia yang
paling lazim, yakni perjamuan sebagai konteks penyataan diri-Nya, khususnya
mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Dan tindakan Yesus ini tidak hanya
berhenti pada tataran teologis (religius) saja, tetapi tentunya juga memiliki
dimensi lain, yaitu dimensi sosial. Selain tradisi perjamuan itu sendiri
sebagai yang bersifat sosial, seluruh hidup dan pelayanan Yesus secara nyata
dan signifikan dihubungkan dengan persoalan sosial yang dihadapi umat pada
waktu itu.
2.
Penting
Penelitian
terhadap Perjamuan Terakhir bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai sosialnya,
yakni nilai-nilai yang bertalian dengan kehidupan manusia dan dunia pada zaman
Yesus, dan menghubungkannya dengan ibadah Kristen. Hubungan ini diharapkan
mampu menjelaskan implikasi sosial atau praksis keadilan ibadah, dan olehnya
memberi sumbangsih yang sangat penting bagi tugas panggilan dan perutusan
gereja ke dalam dunia.
F.
METODOLOGI
PENELITIAN
Metodologi penelitian yang penulis pergunakan dalam karya
ilmiah ini adalah metode penelitian literatur atau kepustakaan, yakni membaca
sejumlah buku-buku dan dokumen-dokumen yang memiliki kaitan dengan pokok
penelitain guna mendapatkan data-data dan informasi dan kemudian diberi catatan
dan analisa terhadapnya.
G.
SISTEMATIKA
PENULISAN
Penulisan
ini dibagi dalam enam bagian.
PENDAHULUAN
Dalam bab
ini akan dikemukakan beberapa hal yang diharapkan dapat memperjelas penelitian
yang akan dilakukan. Bagian ini meliputi latar belakang, rumusan dan pembatasan
masalah, hipotesa, alasan pemilihan judul, metode penelitian, dan sistematika
penulisan.
BAB I:
KELAPARAN: KONTEKS PERJAMUAN TERAKHIR
Bab ini
menguraikan keadaan masyarakat Israel pada masa Yesus, baik dalam bidang politik,
ekonomi, sosial, maupun keagamaan. Selanjutnya dipaparkan konteks Perjamuan
Terakhir, yakni konteks perjamuan, demonstrasi di Bait Allah, Perayaan Paskah
dan beberapa kisah perjamuan yang diikuti Yesus. Dan terakhir, diuraikan arti
dan makna Doa Bapa Kami: Berikanlah kami
pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan kisah pemberian makan 5000 orang yang memiliki keterkaitan dengan
Perjamuan Terakhir.
BAB II:
PERJAMUAN TERAKHIR
Bab ini
menguraikan Perjamuan Terakhir yang dikerjakan Yesus bersama murid-murid-Nya
sebelum Ia diserahkan berdasarkan data-data dari keempat kitab Injil dan I
Korintus; baik karakteristiknya, pemahaman atau sudut pandang masing-masing
penulis tentang Perjamuan Terakhir dan amanat penetapan Perjamuan Terakhir.
Selanjutnya bagian-bagian ini dianalisa.
BAB III:
PERJAMUAN TERAKHIR SEBAGAI PRAKSIS KEADILAN
Pada bab
ini, penulis menganalisa keterangan-ketarangan yang sudah diutarakan pada bab
sebelumnya untuk menggali nilai-nilai sosial Perjamuan Terakhir yang berpusat
pada Kerajaan Allah. Bagian ini meliputi kesataraan dan persatuan umat manusia,
tuntutan perubahan yang radikal, solidaritas dan pembebasan, berbagai
kehidupan, bukan menguasai.
BAB IV:
PERJAMUAN TERAKHIR DAN IBADAH GEREJA
Bab ini
menjelaskan bahwa Perjamuan Tuhan sebagai pengulangan Perjamuan Terakhir adalah
tindakan pusat ibadah yang menegskan integrasi ibadah ritual dengan praktek
hidup sehari-hari. Bagian ini meliputi hubungan Perjamuan Terakhir dengan
Perjamuan Tuhan, ibadah menurut kesaksian Alkitab, ibadah sebagai perayaan akan
Yesus Kristus, Yesus Kristus sebagai sakramen Allah, Perjamuan Tuhan sebagai
tindakan pusat ibadah, keadilan adalah sifat dasar ibadah, seluruh hidup adalah
ibadah.
BAB V:
PENUTUP
Bab ini
mengemukakan refleksi teologis dari penulis yang meliputi kesimpulan dari
seluruh tulisan ini, dan beberapa usulan konkret praktis, serta harapan-harapan
pada gereja-gereja di Indonesia, khusunya Protestan, dalam memaknai dan
mempraktikkan ibadah (liturgi) sebagai perayaan dan pelayanan.
[1] Bnd. Komisi Liturgi KWL, Kursus Dasar Teologi Liturgi,
(Yogyakarta: Komisi Liturgi KWI, 1990), 15-16, yang mengartikan ibadah (litugi)
sebagai puncak semua kegiatan gereja, karena semua usaha kerasulan mempunyai
satu tujuan, yakni agar semua orang berhimpun menjadi satu untuk memuliakan
Allah dan untuk berpartisipasi dalam korban dan Perjamuan Tuhan.
[2]Penjelasan mengenai hubungan ibadah dengan kehidupan
sehari-hari, khususnya masalah-masalah sosial, diuaraikan secara baik dan
terang oleh Ion Bria dengan menggunakan tipologi the liturgy after the liturgy yang menegaskan bahwa liturgi atau
ibadah membentuk ulang (reshape) kehidupan sosial gereja (orang Kristen) dengan
kepedulian yang baru tentang keadilan dalam kehidupan manusia. Lihat Ion Bria, The Liturgy after the Liturgy: Mission and
Witness from an Orthodox Perspektive, (Geneva: WWC Publications, 1996),
19-35 (selanjudnya disebut: Bria, The
Liturgy). Ibadah berada pada pusat praktek kehidupan orang Kristen:
Forrester, McDonald & Tellini, Encounter
WithGod: An Introduction to Christian Worship and Practice, (Edinburgh:
T&T Clark, 1996), 3 (selanjutnya disebut: McDonald & Tellini,
Forrester, Encounter with God). Hal
yang sama juga diuraikan oleh Malcolm Brownlee dalam bukunya: Tugas manusia dalam Dunia Milik Tuhan,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. Kelima, 2014), 19-24 (Selanjutnya disebut:
Brownlee, Tugas Manusia).
[3] Istilah “sakramen” tidak dijumpai dalam Alkitab. Kata ini
berasal dari kata Latin sacramentum
dan pertama kali digunakan oleh Tertullianus untuk menerjemahkan kata mysterion, yang menunjuk secara khusus
pada Perjamuan Kudus. Agustinus mengartikan sakramen, yang kemudian ditegaskan
oleh gereja Anglikan, sebagai bentuk/bagian luar dan tanda yang kelihatan dari
bagian dalam dan anugerah spiritual yang tidak kelihatan. Lihat John Macquarre,
A Guide to the Sacraments, (London:
SCM Press Ltd, 1997), 1-11 (Selanjutnya disebut: Macquarre, A Guide), Kemudian James T. White
memperjelas pengertian ini dengan menyebut sakramen sebagai kasih Allah yang
dijadikan kelihatan dengan menekankan pemberian diri Allah sebagai relaitas,
masa kini yang hadir dalam waktu dan tempat kita sendiri, sekarang dan disini.
Ia menambahkan bahwa Sakramen merefleksikan apa arti menjadi manusia secara
penuh. Lihat James T. White, Pengantar Ibadah Kristen, (terj)(Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2002), 165-195 (Selanjutnya disebut: White, Pengantar Ibadah).
[4] Sebutan lain dari Perjamuan Kudus adalah Perjamuan Tuhan,
Ekaristi, Perjamuan Malam, Pemecahan Roti, Anafora, Collecta dan Misa. Lihat
Jurnal Ledalero, Ekaristi dan Solidaritas, Vol. 4, No. 1, Juni 2005, 16-19 (Selanjutnya
disebut: JURNAL LEDALERO).
[5] White, Pengantar Ibadah, 227.
[6] Emanuel Gerrit Singgih, Mengantisipasi Masa Depan: Berteologi dalam Konteks di awal Millennium
III, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 81.
[7] Yang dimaksud dengan “alat keselamatan” adalah jalan atau
alat lahiriah yang bisa dipakai oleh Roh Kudus untuk menerapkan buah karya
penyelamatan Kristus guna mengumpulkan dan memelihara umat-Nya: Harun
Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, cet. Kesepuluh, 1995), 418 (Selanjutnya disebut: Hadiwijono, Iman Kristen).
[8] Edward M. Grosz (ed), Liturgy
and Social Justice: Celebrating Rites-Proklaiming Rights, (Collegeville:
The iturgical Press, 1988), 9 (Selanjutnya disebut: Grosz, Liturgy and Social).
[9] Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi
Perjanjian Baru (terj.) (Yogyakarta: Kanasius, 1990), 295 (Selanjutnya
disebut: Leon- Dufour, Ensiklopedi).
[10] JURNAL LEDALERO, 82.
[11] Perjamuan Terakhir menurut Injil Sinoptik adalah Perjamuan
Paskah, sedangkan Injil Yohanes menguraikannya sebagai perjamuan perpisahan
atau persaudaraan. Berbeda dengan penulis Sinoptik dan Yohanes, Paulus tidak
secara tegas menyebutkan karakteristik Perjamuan terakhir. Namun bila dibaca
dan diteliti, secara mendalam, pemaparan Paulus tentang Perjamuan Terakhir
lebih dekat dengan pemaparan Yohanes. Baik penulis Sinoptik, Yohanes maupun
Paulus, ketika memaparkan Perjamuan Terakhir, sama-sama dijiwai pemikiran
tentang Paskah atau apa yang mereka sampaikan dalam tulisan mengenai Perjamuan
terakhir ada dalam konteks perayaan Paskah.
[12] Lihat E. Stambaugh and David L. Balch, The New Testament in its Social Environment (Philadelphia: The
Westminster Press, 1986), 13-16 (Selanjutnya disebut: Stambaugh & Balch, The New Testament).
[13] Ibid., 63-81.
[14] Marcus J. Borg, Kali
Pertama Jumpa Yesus Kembali (terj.) (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000),
59-60 (Selanjutnya disebut: Borg, Kali
Pertama).
[15] Joseph A. Grassi, Perwujudan
Ekaristi: Praksis Keadilan Dalam Kehidupan Sosial, (terj.) (Yogyakarta:
Kanasius, 1989), 17-19 (Selanjutnya disebut: Grassi, Perwujudan Ekaristi).
[16] Y.B. Mangunwijaya, Rangawidja:
Religiositas Hal-hal Sehari-hari, (Yogyakarta: Kanasius, 1992), 97
(Selanjutnya disebut: Mangunwijaya, Ragawidya).
[17] Ibid., 98
[18] Ada dua kisah perjamuan religus, yang tidak ditemukan dalam
Alkitab namun memilki makna bagi komunitas Yahudi, yaitu kisah perjamuan Joseph
dan Asenath (Yudaisme), dan juga perjamuan Qumran (Eseni): G.D. Kilpatrick, The Eucharist in Bible and Liturgy,
(Cambridge: Cambridge University Press, 1983), 59-68 (Selanjutnya disebut:
Kilpatrick, The Eucharistic in Bible).
[19] Mc Donald & Tellini, Forrester, Encounter with God, 172-176.
[20] Terlepas dari problematik apakah Perjamuan Terakhir adalah
Perjamuan Paskah atau tidak, tapi yang pasti keduanya memiliki hubungan yang
erat: Donald Bridge & David Phypers, Communion:
The Meal that Unites? (Illinois: Harold Shaw Publishers, 1981), 14, dan
lihat Alasdair I.C. Heron, Table and
Tradition: Toward an Ecumrnical Understanding of the Eucharist,
(Philadelphia: The Westminster Press, 1983), 17-33 (Selanjutnya disebut: Heron,
Table and Tradition).
[21] Colin Brown (gen. ed.), The
New International Dictionary of New Testament Theology (Grand Rapids:
Zondervan Publihing House, 1981, s.v. Lord’s Supper (B. Klappert) (Selanjutnya
disebut: Colin Brown (gen.ed.), The New
International).
[22] Olive Wyon, The Altar
Fire: Reflections on the Sacrament of the Lord’s Supper (Philadelphia: The
Westminster Press, 1954), 23 (Selanjutnya disebut: Wyon, The Altar Fire).
Komentar