TRADISI TARIK TALI KOR DESA FURSUY

TRADISI TARIK TALI KOR DESA FURSUY: KEARIFAN LOKAL DALAM PENANGKAPAN IKAN TRADISIONAL 


Tarik Tali Kor merupakan salah satu praktik penangkapan ikan tradisional yang berkembang dalam kehidupan masyarakat pesisir Desa Fursuy di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Tradisi ini juga ditemukan di desa lain seperti Desa Elyasa dan Desa Matakus, namun dalam tulisan ini difokuskan pada praktik yang dilakukan oleh masyarakat Desa Fursuy. Aktivitas ini mencerminkan bentuk interaksi manusia dengan lingkungan laut yang didasarkan pada pengetahuan lokal, pengalaman turun-temurun, serta prinsip keberlanjutan ekosistem. Dalam konteks sosial, Tarik Tali Kor tidak hanya berfungsi sebagai cara memperoleh sumber pangan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat relasi sosial, kerja sama kolektif, dan solidaritas komunitas.

Secara teknis, pelaksanaan Tarik Tali Kor diawali dengan tahap persiapan alat dan sarana. Masyarakat menyiapkan daun kelapa muda atau yang masih putih yang berfungsi untuk mengusir ikan melalui pantulan cahaya di dasar laut, sehingga ikan bergerak ke arah tertentu. Selain itu, digunakan pula tali panjang dan tali palompong sebagai komponen utama dalam membentuk area penangkapan. Alat pendukung lainnya meliputi jaring, senapan ikan, kacamata selam, dan tombak ikan yang digunakan pada tahap akhir penangkapan. Untuk mobilisasi menuju lokasi, masyarakat memanfaatkan perahu, motor laut, dan lombot sebagai sarana transportasi laut.

Pelaksanaan kegiatan ini umumnya dilakukan secara berkelompok oleh masyarakat Desa Fursuy, baik dalam lingkup masyarakat umum, kelompok gereja, maupun kelompok soa. Dalam praktiknya, kegiatan ini sering dikaitkan dengan tujuan sosial seperti penggalangan dana atau perayaan syukuran tertentu. Proses dimulai dengan doa sebagai bentuk legitimasi spiritual dan permohonan keselamatan. Selanjutnya, penentuan lokasi penangkapan dilakukan secara kolektif, seringkali dipimpin oleh pemerintah desa atau tokoh masyarakat.

Proses penangkapan ikan dalam Tarik Tali Kor dilakukan melalui teknik penggiringan dan pengurungan. Kegiatan dimulai dari perairan yang relatif dalam, sekitar 50 meter dari permukaan air. Tali Kor ditarik oleh dua motor laut membentuk pola menyerupai huruf “U”, yang berfungsi menggiring ikan menuju perairan yang lebih dangkal. Setelah itu, tali ditutup membentuk lingkaran seperti huruf “O” untuk mengurung ikan dalam satu area terbatas. Pada bagian tali dipasang daun kelapa muda (pucuk) yang ditempatkan sekitar satu meter dari dasar laut, berfungsi sebagai penghalang alami yang mengarahkan pergerakan ikan.

Setiap pelampung pada tali dipasang dengan jarak kurang lebih 10 meter, yang biasanya menjadi tanggung jawab masing-masing individu dalam kelompok. Setelah ikan terkonsentrasi di daerah dangkal, masyarakat melakukan penangkapan menggunakan jaring, tombak, atau panah. Teknik ini dilakukan tanpa penggunaan bahan kimia atau alat tangkap yang merusak, sehingga tetap menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Hasil tangkapan umumnya berupa ikan berukuran sedang hingga besar, berkisar antara 20 hingga 50 cm. Jika jumlah tangkapan belum memenuhi kebutuhan atau target, proses dapat diulangi. Setelah kegiatan selesai, hasil tangkapan dibawa ke darat untuk dibersihkan, diolah, atau didistribusikan. Dalam tahap ini, perempuan memiliki peran penting, terutama dalam proses pengolahan, pengawetan, hingga pemasaran ikan, baik untuk konsumsi lokal maupun penjualan ke desa lain.

Secara keseluruhan, Tradisi Tarik Tali Kor di Desa Fursuy merupakan representasi kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya laut secara bijaksana. Praktik ini menunjukkan adanya integrasi antara aspek ekologis, sosial, dan budaya, yang tercermin dalam pola kerja kolektif, penggunaan teknologi sederhana, serta upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan lokal yang memiliki nilai ilmiah dalam kajian budaya dan pengelolaan sumber daya alam.


Sumber wawancara: 

Bpk. Winston (Farek) Temartenan sebagai salah satu warga desa Fursuy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGAJARAN ALLAH TRITUNGGAL MENURUT ERASTUS SABDONO”

Book Reaport

Ajaran Sesat