KONSEP HIDUP KEKAL MENURUT HARUN HADIWIJONO DALAM BUKU IMAN KRISTEN

KONSEP HIDUP KEKAL MENURUT HARUN HADIWIJONO 

DALAM BUKU IMAN KRISTEN (010)


Pendahuluan


Hidup kekal merupakan salah satu pokok ajaran penting dalam iman Kristen. Selama ini, hidup kekal sering dipahami hanya sebagai kehidupan yang berlangsung setelah kematian. Namun, Harun Hadiwijono dalam bukunya Iman Kristen menjelaskan bahwa pengertian tersebut jauh lebih luas. Hidup kekal bukan hanya berbicara tentang kehidupan yang tidak berkesudahan, tetapi terutama tentang hubungan manusia dengan Allah yang dimulai sejak seseorang percaya kepada Yesus Kristus dan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman.

Melalui pembahasannya, Hadiwijono menempatkan hidup kekal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari karya keselamatan Allah. Oleh karena itu, hidup kekal tidak hanya memiliki dimensi masa depan, tetapi juga merupakan realitas yang telah dialami oleh orang percaya pada masa kini.


Hidup Kekal sebagai Persekutuan dengan Allah

Harun Hadiwijono memulai pembahasannya dengan menegaskan bahwa hidup kekal tidak boleh dipahami sekadar sebagai kehidupan yang berlangsung tanpa akhir. Menurutnya, hakikat hidup kekal adalah persekutuan dengan Allah. Pemahaman ini didasarkan pada Yohanes 17:3 yang menyatakan bahwa hidup yang kekal adalah mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya.

Bagi Hadiwijono, mengenal Allah bukan sekadar mengetahui tentang Allah secara intelektual, melainkan hidup dalam hubungan yang nyata dengan-Nya. Dengan demikian, hidup kekal memiliki sifat relasional. Nilai utama hidup kekal bukan terletak pada lamanya kehidupan, tetapi pada kualitas hubungan manusia dengan Allah.


Hidup Kekal Dimulai Sejak Sekarang

Salah satu pokok penting dalam pemikiran Hadiwijono adalah bahwa hidup kekal telah dimiliki oleh orang percaya sejak sekarang. Berdasarkan Yohanes 3:16, setiap orang yang percaya kepada Kristus menerima hidup kekal sebagai anugerah Allah.

Meskipun demikian, Hadiwijono menjelaskan bahwa hidup kekal yang dialami sekarang belum berada dalam keadaan yang sempurna. Kehidupan orang percaya masih berlangsung di tengah dunia yang dipengaruhi oleh dosa dan berbagai keterbatasan manusia. Oleh sebab itu, hidup kekal yang dinikmati saat ini merupakan awal dari kehidupan yang akan mencapai kesempurnaannya pada masa yang akan datang.

Dengan kata lain, hidup kekal memiliki dua dimensi yang saling berkaitan. Di satu sisi, hidup kekal sudah menjadi kenyataan bagi orang percaya. Di sisi lain, kepenuhannya masih menantikan penggenapan pada akhir zaman.


Kepenuhan Hidup Kekal pada Akhir Zaman

Menurut Hadiwijono, kepenuhan hidup kekal akan dinyatakan ketika Allah menggenapi seluruh rencana keselamatan-Nya. Pada saat itu, orang percaya akan hidup dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah tanpa lagi dibatasi oleh dosa, penderitaan, maupun kematian.

Ia menjelaskan bahwa keadaan tersebut merupakan penggenapan dari berbagai janji Allah dalam Alkitab. Orang percaya akan menikmati seluruh warisan keselamatan, memerintah bersama Kristus, serta hidup selama-lamanya di hadapan Allah. Dengan demikian, kehidupan kekal yang akan datang bukanlah kehidupan yang berbeda sama sekali dari kehidupan sekarang, melainkan penyempurnaan dari kehidupan yang telah dimulai melalui iman kepada Kristus.


Makna Melihat Allah

Salah satu pembahasan yang menarik dalam uraian Hadiwijono adalah mengenai ungkapan "melihat Allah". Menurutnya, istilah tersebut tidak boleh dipahami secara harfiah sebagai melihat Allah dengan mata jasmani. Ia menunjukkan bahwa Alkitab juga menyatakan tidak seorang pun pernah melihat Allah dan bahwa Allah berdiam dalam terang yang tidak dapat dihampiri manusia.

Karena itu, "melihat Allah" dipahami sebagai pengalaman rohani. Melihat Allah berarti mengenal-Nya, menikmati hadirat-Nya, menerima terang-Nya, dan hidup dalam persekutuan yang semakin dekat dengan-Nya. Pengalaman tersebut telah dimulai dalam kehidupan orang percaya sekarang, tetapi baru akan menjadi sempurna pada akhir zaman.


Iman sebagai Jalan Menuju Hidup Kekal

Harun Hadiwijono juga menegaskan bahwa hidup kekal diterima melalui iman kepada Yesus Kristus. Selama hidup di dunia, orang percaya berjalan oleh iman, bukan oleh penglihatan. Iman memungkinkan seseorang mengenal Allah sekalipun belum melihat-Nya secara sempurna.

Melalui iman, orang percaya mengalami kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari, memahami kehendak-Nya, serta memiliki pengharapan akan penggenapan janji-janji-Nya. Oleh sebab itu, iman menjadi dasar bagi pengalaman hidup kekal yang telah dimulai sejak sekarang.


Kekudusan dalam Kehidupan Kekal

Selain iman, Hadiwijono menghubungkan hidup kekal dengan kehidupan yang kudus. Ia mengutip Matius 5:8 dan Ibrani 12:14 untuk menunjukkan bahwa hanya mereka yang hidup dalam kekudusan yang akan melihat Allah.

Dalam pandangannya, kekudusan bukan sekadar kewajiban moral, tetapi merupakan buah dari kehidupan yang telah dipersatukan dengan Allah. Semakin seseorang hidup dalam persekutuan dengan Allah, semakin nyata pula kekudusan dalam kehidupannya. Oleh karena itu, kehidupan yang kudus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman hidup kekal.


Hidup Kekal sebagai Kenikmatan dalam Allah

Pada bagian akhir pembahasannya, Hadiwijono menjelaskan bahwa hidup kekal berarti menikmati Allah sepenuhnya. Orang percaya tidak hanya diselamatkan dari hukuman dosa, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengalami kasih, damai sejahtera, sukacita, dan kehadiran Allah secara penuh.

Kenikmatan tersebut mulai dirasakan dalam kehidupan sekarang melalui hubungan dengan Allah, tetapi akan mencapai kesempurnaan ketika orang percaya hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya. Dengan demikian, tujuan akhir hidup kekal bukan hanya hidup tanpa akhir, melainkan menikmati persekutuan yang sempurna dengan Allah.


Penutup


Berdasarkan uraian Harun Hadiwijono dalam buku Iman Kristen, hidup kekal dipahami sebagai kehidupan dalam persekutuan dengan Allah yang dimulai melalui iman kepada Yesus Kristus dan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman. Hidup kekal bukan sekadar berbicara mengenai keberadaan manusia setelah kematian, melainkan mengenai relasi yang terus bertumbuh dengan Allah.

Dalam pemikiran Hadiwijono, hidup kekal memiliki dimensi yang utuh. Hidup kekal adalah anugerah keselamatan yang diterima melalui iman, diwujudkan dalam kehidupan yang kudus, dialami dalam persekutuan dengan Allah pada masa kini, dan digenapi secara sempurna dalam kemuliaan yang akan datang. Dengan demikian, konsep hidup kekal tidak hanya berorientasi pada masa depan, tetapi juga memberikan makna bagi kehidupan orang percaya pada masa sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGAJARAN ALLAH TRITUNGGAL MENURUT ERASTUS SABDONO”

Ajaran Sesat

Book Reaport