KETIKA KASIH KARUNIA MENGINGAT APA YANG KITA LUPAKAN

VITAMIN SORGA #Hari ke-217

"Namun Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu, dan Aku akan meneguhkan bagimu suatu perjanjian yang kekal." (Yehezkiel 16:60)

Yehezkiel 16 merupakan salah satu pasal yang paling menyentuh sekaligus paling keras dalam Kitab Yehezkiel. Melalui sebuah alegori, Tuhan menggambarkan Yerusalem seperti seorang bayi yang ditelantarkan, tanpa harapan dan tanpa masa depan. Dengan kasih-Nya, Allah mengangkat, memelihara, dan menjadikan Yerusalem begitu indah. Namun, setelah menerima begitu banyak kasih karunia, bangsa itu justru berpaling kepada ilah-ilah lain dan mengkhianati perjanjian dengan Tuhan. Dosa mereka bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap kasih Allah yang begitu besar.

Secara manusiawi, pengkhianatan sebesar itu pantas dibalas dengan penolakan untuk selama-lamanya. Namun, di tengah berita penghukuman yang memenuhi pasal ini, Yehezkiel 16:60 menghadirkan secercah terang yang luar biasa. Tuhan berfirman, "Namun Aku akan mengingat perjanjian-Ku..." Kata "namun" menjadi titik balik yang menunjukkan bahwa murka Allah bukanlah akhir dari kisah umat-Nya. Di balik keadilan-Nya, tetap ada kasih karunia yang bekerja.

Pernyataan bahwa Allah "mengingat perjanjian" bukan berarti Tuhan pernah lupa. Dalam bahasa Alkitab, "mengingat" berarti bertindak dengan setia berdasarkan janji yang telah diikrarkan. Allah tetap konsisten pada karakter-Nya. Sekalipun umat-Nya tidak setia, Dia tetap setia kepada firman-Nya. Kesetiaan Allah tidak bergantung pada kesempurnaan manusia, tetapi pada kekudusan dan kebenaran-Nya sendiri.

Ayat ini memperlihatkan sebuah paradoks yang indah. Allah tidak mengabaikan dosa; Ia tetap menghukum pelanggaran umat-Nya. Namun penghukuman itu bukanlah tujuan akhir. Tujuan-Nya adalah pemulihan. Tuhan mendisiplinkan agar umat-Nya kembali kepada-Nya, bukan agar mereka binasa. Karena itu, kasih karunia Allah tidak meniadakan keadilan-Nya, dan keadilan-Nya tidak pernah memadamkan kasih-Nya.

Bagi orang percaya, ayat ini menjadi penghiburan yang sangat besar. Tidak sedikit orang yang merasa bahwa masa lalunya terlalu kelam untuk dipulihkan. Ada kegagalan, dosa, keputusan yang salah, atau luka yang terus menghantui hati. Namun Yehezkiel 16:60 mengingatkan bahwa Allah adalah Allah yang mengingat perjanjian-Nya. Ketika manusia gagal memegang komitmennya, Tuhan tetap memegang janji-Nya. Ia membuka jalan bagi pemulihan bagi setiap orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat.

Dalam terang Perjanjian Baru, janji tentang "perjanjian yang kekal" menemukan penggenapan yang sempurna di dalam karya penyelamatan Kristus. Melalui pengorbanan-Nya, Allah mengadakan perjanjian yang baru dan kekal, sehingga setiap orang yang percaya memperoleh pengampunan, pembaruan hidup, dan pengharapan yang tidak akan pernah berakhir. Keselamatan adalah anugerah yang lahir dari kesetiaan Allah, bukan hasil usaha manusia semata.

Karena itu, jangan biarkan rasa bersalah menjauhkan kita dari Tuhan. Sebaliknya, biarkan kasih karunia-Nya membawa kita kepada pertobatan yang sejati. Allah yang sama yang menghukum dosa juga adalah Allah yang merangkul orang berdosa yang kembali kepada-Nya. Ia tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan dan meneguhkan kembali hubungan yang telah rusak.

Hari ini, marilah kita belajar untuk hidup dalam rasa syukur atas kasih setia Tuhan. Jangan menyia-nyiakan anugerah-Nya dengan kembali hidup dalam dosa, tetapi hiduplah dalam ketaatan sebagai respons atas kasih yang telah lebih dahulu kita terima. Kesetiaan Allah seharusnya mendorong kita untuk menjadi umat yang setia kepada-Nya. Sebab di balik setiap kegagalan manusia, selalu ada Allah yang tetap mengingat perjanjian-Nya dan yang terus memanggil kita kembali kepada kasih-Nya. Amin!
(FT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGAJARAN ALLAH TRITUNGGAL MENURUT ERASTUS SABDONO”

Ajaran Sesat

Book Reaport