KETIKA KEMULIAAN TUHAN DINYATAKAN
VITAMIN SORGA - Hari ke-229
“Kamu akan dikenyangkan pada meja-Ku oleh kuda dan penunggang kuda, oleh pahlawan dan semua orang perang, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Aku akan menaruh kemuliaan-Ku di antara bangsa-bangsa dan semua bangsa akan melihat hukuman yang Kujatuhkan dan tangan-Ku yang Kutaruh terhadap mereka.” (Yehezkiel 39:20–21).
Ada satu hal yang sering sulit dilakukan manusia: mengakui bahwa Tuhan tetap berdaulat ketika keadaan tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kita mudah berkata bahwa Tuhan berkuasa ketika doa kita dijawab seperti yang kita harapkan. Tetapi bagaimana ketika jalan yang kita tempuh penuh dengan pergumulan? Bagaimana ketika kita melihat ketidakadilan, kesulitan, atau keadaan yang tidak dapat kita mengerti?
Yehezkiel 39:20–21 membawa kita kepada sebuah kebenaran yang sangat kuat: Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah. Tidak ada kekuatan manusia yang berada di luar pemerintahan-Nya. Dalam konteks pasal ini, Tuhan sedang berbicara tentang penghukuman terhadap Gog dan pasukannya. Kekuatan yang tampaknya besar dan menakutkan itu pada akhirnya tidak dapat bertahan di hadapan Allah.
Namun yang menarik, Tuhan tidak hanya berbicara tentang kekalahan musuh. Dia berkata, “Aku akan menaruh kemuliaan-Ku di antara bangsa-bangsa.”
Artinya, tujuan utama tindakan Tuhan bukan sekadar menunjukkan bahwa musuh dikalahkan. Tujuan yang lebih dalam adalah supaya kemuliaan Tuhan dikenal.
1. Tuhan Berdaulat Atas Kekuatan yang Tampaknya Tidak Terkalahkan
Dalam ayat ini digambarkan kuda, penunggang kuda, pahlawan, dan orang-orang perang. Semuanya melambangkan kekuatan militer yang besar. Bagi manusia, kekuatan seperti itu dapat menimbulkan ketakutan.
Tetapi Tuhan menunjukkan bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, semuanya tetap berada di bawah kedaulatan-Nya. Ini penting bagi kita. Jangan mengukur kemampuan Tuhan berdasarkan besarnya masalah yang sedang kita hadapi.
Pergumulan boleh berat, tetapi Tuhan tidak kehilangan kuasa.
Jalan di depan boleh terlihat gelap, tetapi Tuhan tetap melihat seluruh perjalanan.
Kadang-kadang kita terlalu lama memandangi "Gog" dalam kehidupan kita—masalah, tekanan, ketakutan, atau keadaan yang tampaknya tidak mungkin dikalahkan—sampai kita lupa memandang kepada Tuhan.
Firman hari ini mengajak kita mengalihkan pandangan: jangan hanya melihat besarnya ancaman; lihatlah kebesaran Allah.
2. Tuhan Bekerja untuk Menyatakan Kemuliaan-Nya
Tuhan berkata, “Aku akan menaruh kemuliaan-Ku di antara bangsa-bangsa.”
Inilah pusat pesan dari ayat tersebut. Allah bertindak dalam sejarah untuk menyatakan siapa diri-Nya.
Dalam Kitab Yehezkiel, tema tentang manusia “mengetahui bahwa Akulah TUHAN” muncul berulang kali. Tuhan tidak ingin manusia hanya melihat peristiwa, tetapi mengenal Pribadi yang berada di balik peristiwa itu.
Ketika Tuhan menolong kita, jangan berhenti pada pertolongan itu. Kenallah Tuhan yang menolong.
Ketika Tuhan membuka jalan, jangan hanya bersukacita karena jalannya terbuka. Bersyukurlah kepada Tuhan yang membuka jalan.
Ketika Tuhan memberi kekuatan untuk melewati masa sulit, jangan hanya berkata, “Saya berhasil melewatinya.” Katakanlah, “Tuhan yang menguatkan saya.”
Dengan demikian, pusat kesaksian kita bukanlah diri kita, melainkan Tuhan.
3. Kemuliaan Tuhan Tidak Selalu Terlihat Melalui Kenyamanan
Ada pelajaran penting yang perlu kita pahami. Kemuliaan Tuhan tidak selalu dinyatakan melalui kehidupan yang bebas dari masalah.
Kadang-kadang kemuliaan Tuhan justru terlihat ketika seseorang tetap percaya meskipun sedang berada dalam tekanan.
Kemuliaan Tuhan terlihat ketika seseorang tetap mengampuni meskipun pernah disakiti.
Kemuliaan Tuhan terlihat ketika seseorang tetap berdoa meskipun jawaban belum datang.
Dengan kata lain, kemuliaan Tuhan bukan hanya terlihat ketika keadaan berubah sesuai dengan keinginan kita. Kemuliaan-Nya juga dapat terlihat melalui kesetiaan umat-Nya di tengah keadaan yang sulit.
Karena itu, jangan berpikir bahwa hidup yang sedang mengalami pergumulan berarti Tuhan tidak bekerja. Bisa jadi justru di tengah pergumulan itulah Tuhan sedang membentuk iman kita dan menyatakan karakter-Nya melalui kehidupan kita.
4. Jangan Mengambil Kemuliaan yang Seharusnya Kembali kepada Tuhan
Ada bahaya lain ketika Tuhan memberikan kemenangan: manusia dapat mengambil kemuliaan untuk dirinya sendiri.
Ketika pelayanan berkembang, kita berkata, “Karena kemampuan saya.”
Ketika masalah terselesaikan, kita lupa siapa yang telah menolong.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa kemuliaan adalah milik Tuhan.
Jika Tuhan memberkati kita, jangan lupakan sumber berkat.
Jika Tuhan memakai kita, jangan menganggap diri kita sebagai sumber kuasa.
Kita hanyalah alat di tangan-Nya. Tuhanlah yang bekerja.
Mungkin hari ini ada sesuatu yang membuat kita takut. Ada persoalan yang terasa terlalu besar. Ada keadaan yang tidak dapat kita kendalikan. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita.
Dia tetap bekerja.
Dan Dia tetap memiliki tujuan yang lebih besar daripada apa yang dapat kita lihat dengan mata kita.
Sebab ada hal-hal yang belum kita mengerti hari ini, tetapi suatu hari kita akan melihat bahwa tangan Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.
Yehezkiel 39:20–21 mengajarkan kepada kita bahwa pada akhirnya Tuhanlah yang akan menyatakan kemuliaan-Nya. Kekuatan manusia memiliki batas, tetapi kuasa Allah tidak terbatas. Rencana manusia dapat berubah, tetapi kehendak Tuhan tetap berdiri.
Karena itu, jangan takut menghadapi hari esok.
Jangan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang sedang kita lihat.
Tetaplah percaya kepada Tuhan yang memegang sejarah dan kehidupan kita.
Dan ketika Tuhan memberikan pertolongan, kemenangan, atau pemulihan, jangan lupa mengembalikan segala kemuliaan kepada-Nya.
FT
Komentar